Kurang Gizi Penyumbang Penyakit TB
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,SAMARINDA- Wakil Ketua PPTI Wialyah
Kaltim Hj. R.A Astogini mengatakan penyakit TB, khususnya
TB paru, masih menjadi
permasalahan dunia. Indonesia termasuk
8 negara yang menyumbang 2/3 kasus TB di
seluruh dunia, dan Indonesia menempati
posisi kedua setalah India dengan
845.000 kasus dan kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian
perjam.
Ditambahkan, berdasarkan WHO Global TB Report 2020, faktor kurang gizi merupakan faktor resiko tinggi
penyumbang penyakit TB. Berdasarkan hal tersebut , TB dan Stunting merupakan hal yang tidak
terpisahkan dan sangat penting
untuk melakukan hamornisasi kepentingan
pemangku kebijakan lintas sektor dalam rangka
mensinergikan upaya –upaya yang
mendukung proses eliminasi
TB tahun 2030 dan menurunkan pravalensi Stunting
menjadi 14% pada tahun 2024.
“Mengacu kepada angka insidens TB
di Indonesia yaitu 312 per 100.000 penduduk, maka diperkirakan kasus baru TB pertahun sebanyak 845.000 orang, dn pada tahun 2020
baru ditemukan sebanyak 552.000 orang, dan yang sedang menjalani pengobatan hanya 67 %,”kata Astogini saat mewakili Ketua
PPTI Wilayah Katim, pada semimar kesehatan dengan tema Peran DWP Dalam Pengendalian Tuberkulosis
(TB), di Ruang Ruhui Rahayu Kantor
Gubernur Kaltim, Kamis (14/10/2021).
Di Kaltim, dengan jumlah penduduk saat ini kurang lebih 3,6 juta jiwa, lanjut
Astogini mengatakan diperkirakan
terdapat penderita 7.800 TB dengan Bakteri Tahan Asam (BTA) positif,
dan yang ditemukan sampai dengan Desember 2020, hanya 30 % dari
80%. Artinya masih banyak lagi penderita
TB yang ada dimasyarakat yang belum ditemukan. Untuk treatment Success
Rate (SR) atau keberhasilan pengobatan sudah cukup tinggi yaitu 90%.
“Dari hasil penemuan tersebut dan pengobatan
yang masih rendah itu, diperkirakan jumlah penderita TB di Kaltim akan
meningkat dua kali lipat pada tahun
2024, padahal lebih dari 75 % penderita TB adalah usia produktif dan tanpa penanggulangan yang konfrehensif, terintegrasi , dan serius
, jelas akan merupakan ancaman terhadap
pembangunan bangsa, khususnya di Kaltim,”ujarnya.
Adapun tugas utama PPTI, lanjut Astogini adalah sebagai penyuluh tentang penyakit TB
kepada masyarakat luas pada tatanan akar rumput
dilakukan oleh para kader terlatih dan kegiatan tersebut harus berujung dengan ditemukannya pasien TB dengan BTA positif dan dilakukan pendampingan pengobatan sampai dinyatakan
sembuh oleh dokter.
“selain penyembuhan, diharapkan juga PTTI
sebaiknya dapat juga memberikan santunan
kepada pasien TB yang tidak mampu atau
miskin, sesuai dengan kemampuan organosasi,”kata Astogini.(mar)